Posts

Bagian 4. Kuning

Image
www.freepik.com   Bagian 4. Aku menghembuskan napas panjang sambil merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. “Capek, my love ?” Tanya suamiku lembut. “Banget!” Jawabku singkat sambil menggerutu. “Alhamdulillah Nino mau tidur cepat malam ini, jadi aku masih berasa punya waktu untuk istirahat panjang.” Lanjutku. “Tadi dia merengek terus, adaa aja yang kurang. Sekolahnya juga main-main terus. Disuruh mandi susah banget.” Curhatku kepada suami. Suamiku menyimak dan tidak sedikit juga memotong pembicaraanku. Ia mendengarkan tanpa interupsi. Ketika aku sudah tidak lagi berkata-kata. Suamiku baru merespon, “Sabar, ya. Nino itu lagi butuh perhatian. Dia tahu ibunya lagi enggak enak hati, jadi dia suka ikut-ikutan rungsing juga.” Suamiku menenangkan sambil menepuk bahuku. Aku mengatur posisi bantal agar lebih nyaman untuk kepalaku. Aku tidur menghadap arah kanan. Suamiku hanya bisa melihat punggungku dan mengusap-usap punggungku dengan lembut. Dia tahu sekali aku paling merasa...

Bagian 3. Hitam

Image
  Bagian 3. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan 80 km/jam. Tangan kanan dan kiriku memegang setir mobil. Ada pensil alis yang kusisipkan di tangan kiriku. Begitu lampu merah, aku mengambil pensil alis dan menggunakannya untuk merapikan alis. Selesai membentuk alis, aku taruh pensil alis itu ke dalam tas make up. Aku merogoh ke dalam tas tersebut untuk mengambil lipstick. Lampu Hijau sudah menyala, aku belum juga menemukan lipstick yang ku maksud. Terpaksa aku melajukan kembali mobilku. Sepanjang perjalanan, tangan kananku memegang setir dengan kuat sementara tangan kiriku masih berusaha merogoh ke dalam tas make up untuk mencari lipstick . Begitu tangan kiri sudah memegang sebuah benda berbentuk tabung, jempol kiriku bergerak untuk memastikan teksturnya sudah benar. Aku angkat tangan kiri beserta benda yang tergenggam di sana, begitu aku menoleh ke kiri, rupanya yang ku ambil adalah mascara. Aku kaget dan spontan menginjak rem mobil sambil banting setir ke kiri. Ketika itu ...

Bagian 2. Abu Tua

Image
Bagian 2. Nasihat Ibu ketika aku kecil lalu lalang di pikiranku. Suara sang Ibunda hadir memenuhi pikiran. “Kamu itu anak pertama, nggak boleh cengeng.” “Kamu itu contoh buat adik-adikmu, jadi kamu harus tunjukkan yang terbaik.” “Ibu yakin kamu pasti bisa jadi yang terbaik. Kamu harus bisa mengalahkan keraguan dalam dirimu.” “Mama kok bengong?” Pertanyaan anakku membuyarkan lamunanku. “Mama lagi mikirin menu untuk makan malam. Kamu lagi mau makan apa?” “Telor!” jawabnya bersemangat. “Ok deh, mama buatkan telor sekalian untuk papa juga ya. Kamu mandi dulu, sudah hampir magrib.” Responku ke anak kelas 3 SD ini. Aku hanya ceplok telur dan menaburkan bumbu kecap di atasnya. Aku kupas kulit ketimun dan memotongnya untuk teman makan malam. Bertepatan dengan azan magrib berkumandang, suamiku pulang. Usai memarkirkan mobil di garasi, ia langsung masuk rumah. “Sebentar dulu, Mas. Aku belum siapkan handuk dan pakaianmu di kamar mandi. Jangan masuk rumah dulu ya.” Ucapku s...

Bagian 1. Abu Muda

Image
Bagian 1. “Hi Mbak, gimana kabarnya?” Ada pesan muncul di layar ponselku melalui aplikasi whatsapp. Deg. Perasaanku tidak enak. Seorang pemimpin dari anak perusahaan tempatku bekerja menghubungiku. Saat itu waktu menunjukkan pukul 16.10. Aku baru saja selesai salat asar. “Alhamdulillah baik. Ibu gimana kabarnya? Ada yang bisa dibantu?” “Syukurlah Mbak kalau baik-baik saja. Saya juga sehat. Saya mau info soal proyek yang waktu itu, tentang organisasi. Itu enggak jadi dilakukan tahun depan, Mbak. Manajemen minta proyeknya selesai di tahun ini juga. Minta bantuan banget dari kantor pusat ya.” “Oh, begitu. Wah mepet sekali ya. Sepertinya enggak mungkin kekejar. Akhir tahun begini, paling waktu efektifnya tidak sampai dua bulan ...” Spontan aku respon dengan mengetik cepat sambil bola mataku berputar kesana kemari. Jari jempolku terpaku di atas tombol send . Aku tekan tombol back. Semua pesan aku hapus. Rasanya tidak elok aku merespon seperti itu. Pesanku mewakili bagaimana kantor pusat mer...

Mini Project - Komik Keroyokan Anak

Image
  Bismillah, sejak PSBB dan school from home diberlakukan, ada satu kegiatan baru di keluarga kami yaitu membuat komik.  Kegiatan ini tercetus spontan karena saya perhatikan anak saya selalu menggambar, setiap hari. Dengan niat tidak mau kertas gambarnya hanya menjadi coretan dan pada akhirnya bertengger di tempat sampah khusus kertas, maka saya ajak dia menonton cara membuat komik. Ia tertarik! Sejak itu kami menjadi tim pembuat komik keluarga dengan pembagian tugas seperti ini : Tukang garis : Ayah Tukang tulis : Ibu Tukang gambar dan warnai : Aidan Komik keluarga ini menjadi satu oleh-oleh selama pandemi.  Nanti, ketika ini terlewati, kita semua punya cerita menarik untuk dibagikan. Cerita tentang karya yang dihasilkan bersama anak. Berikut foto proses dan beberapa cuplikan komiknya: Alhamdulillah sudah jadi puluhan lembar dan kami kirimkan hasil itu kepada keluarga terdekat. Komik dengan 4 panel ini begitu sederhana tetapi punya cerita yang menjadi pengalaman mewah ka...

Dengarkan kata hati untuk hidup bermartabat

Image
sumber gambar : Gerd Altmann, Pixabay Izinkan saya mengawali tulisan ini dengan mengutip apa yang disampaikan Ibu Septi dalam code of conduct komunitas Ibu Profesional : Ibu adalah salah satu arsitek peradaban. Bagaimana bisa membangun peradaban kalau diri kita sendiri masih tuna adab. Mendengar diskusi Yunda Ney dan Yunda Utami sangat menarik karena mengingatkan kita untuk memperbaiki diri agar hidup dengan lebih bermartabat. Apa maksudnya hidup dengan lebih bermartabat? banyak sekali contoh-contoh yang diberikan seperti bertanggung jawab dengan amanah yang dimiliki, memastikan tidak mengakui karya orang lain sebagai karya individu dan bersikap aktif untuk berkontribusi. Salah satu contoh perbuatan yang dibicarakan dan menjadi quiz adalah terkait media publikasi. Bagaimana sikap kita jika mendesain sesuatu dengan menggunakan aplikasi gratis? beberapa ada yang menghilangkan watermark sedemikian rupa dan mencantumkannya di caption. Bayangkan jika publikasi tersebut tersebar tanpa menyeb...

Cermin untuk maju

Image
Pertemuan pertama begitu menggetarkan hati. Saya mengenal Ibu profesional pada tahun 2018. Niat hati untuk belajar, saya justru tidak hanya dapat ilmu saja, tetapi juga teman baru, wawasan baru dan jiwa baru. Dua hal yang paling terasa di diri saya sejak mengenal komunitas ini adalah saya menjadi individu yang lebih peka dengan lingkungan serta individu yang lebih menghargai hidup dengan memberi.  Dari Ibu Profesional, saya kenal Rumah Belajar Menulis (RBM). Saat bergabung sebagai anggota RBM pada tahun pertama, saat itu sedang ada proyek antologi. Saya belum paham apa yang dimaksud antologi hehehe pokoknya ikut berpartisipasi saja. Pada saat itu, tulisan saya terpilih sebagai salah satu tulisan yang akan dibukukan dalam buku berjudul 1001 wajah Ibu - memoar pengasuhan Ibu.  Pengalaman itu sangat berkesan, selain karena pertama kali punya buku antologi, buku itu adalah penggalan catatan berharga dalam pengasuhan saya sebagai seorang Ibu bekerja di ranah publik.  Suatu ket...